Saturday, December 5, 2009

Dana Pendidikan Kota Cilegon


Jumat, 13 November 2009

CILEGON – Dari Rp 613.747.282.000 APBD Cilegon 2010, Rp 123.678.113.294 di antaranya dialokasikan bagi anggaran pendidikan.

Ketua Badan Anggaran DPRD Cilegon Adad Mussadad mengatakan, dengan pengalokasian 20 persen lebih APBD di sektor pendidikan ini menggambarkan bahwa bidang ini masih menjadi prioritas pembangunan di Kota Cilegon.

Dana tersebut, katanya, termasuk subsidi anggaran yang dialokasikan pemkot untuk program SPP gratis di sekolah-sekolah negeri. “Faktor ini yang membuat pengalokasian anggaran di bidang pendidikan masih besar,” ungkapnya, Kamis (12/11).

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Cilegon Ratu Ati Marliati mengatakan, alokasi anggaran pendidikan ini rencananya juga akan digunakan untuk membiayai sejumlah program. Seperti, peningkatan mutu pendidikan, serta bantuan sarana bagi sekolah yang membutuhkan. “Kalau alokasi bantuan SPP gratis memang masih berjalan. Program lainnya seperti peningkatan mutu pendidikan baik bagi sekolah, guru, dan siswa juga mendapat alokasi dari APBD,” ujarnya.

Dijelaskannya, peningkatan mutu sekolah ini di antaranya program menjadikan seluruh sekolah negeri di Cilegon berstandar nasional. Sebab, selama ini baru seluruh sekolah SMP, dan SMA saja yang berstandar nasional. “Kita akan berupaya bagaimana sekolah dasar juga berstandar nasional. Tentunya hal tersebut perlu perhatian, yakni dengan memberikan pelatihan kepada guru-gurunya. Kegiatan pelatihan ini akan dibiayai APBD,” ujarnya.

Sementara untuk bantuan sarana bagi sekolah akan diberikan jika sekolah memerlukan. Salah satunya dengan pengalokasian kebutuhan ruang kelas baru (RKB) dan perpustakaan. “Bantuan ini diberikan kepada sekolah yang sudah diverifikasi oleh Dindik Cilegon pada 2009. Nanti, kita baru menyerahkan anggarannya, agar bisa digunakan untuk perbaikan atau penambahan sarana sekolah. Besarannya sendiri beragam, sesuai kebutuhan yang sudah kita verifikasi,” jelasnya.

Sumber : www.radarbanten.com

Friday, November 20, 2009

Menatap Orang Australia dari Dekat


Pikiran Rakyat, Rabu, 18 November 2009

Deddy Mulyana, Dekan Fikom Unpad, kini Guru Besar Tamu di Monash University, Australia.

JIKA Anda datang ke Australia, jangan coba-coba membangga-banggakan jabatan yang Anda sandang di Indonesia. Warga Australia tidak akan terkesan dengan status Anda. Ini karena warga Australia menganut egalitarianisme (paham kesederajatan) yang sudah mengakar. Karena pergaulan mereka dengan warga Australia, banyak pemukim Indonesia yang sudah mencerap nilai ini. Maka jika Anda presiden direktur, jenderal, pengusaha besar, profesor, anggota DPR, atau selebriti, Anda tak perlu kecewa jika di negeri kanguru Anda tak dikerubungi orang-orang, atau bahkan tak diperkenalkan resmi dalam pertemuan informal yang kebetulan Anda hadiri. Apalagi jika Anda sekadar anak pejabat, anak pengusaha besar atau anak orang terkenal.

Nilai budaya kolektivistik yang dianut orang Indonesia membuat status istimewa seseorang di Indonesia menular juga kepada semua anggota keluarganya, sehingga seseorang merasa bangga karena orang tuanya atau kerabat dekatnya punya status istimewa. Maka prestasi seseorang di Indonesia sering bersifat bawaan (being), berbeda dengan di Australia dan di banyak negara Barat lainnya yang individualistik yang mengasumsikan bahwa prestasi seseeorang itu diciptakan, diperoleh atau menjadi (becoming), yakni apa yang telah orang itu lakukan dalam kehidupan.

Untuk menunjukkan sikap egaliter, orang Australia sering melakukan sapaan kasar "G’day, mate, how are you?" yang diikuti dengan tepukan di punggung mitranya. Orang non-Australia boleh jadi menganggap tindakan ini menghina atau meremehkan. Kesederajatan yang mereka anut juga tercermin dalam cara orang-orang memanggil atasan mereka, yakni dengan nama pertama, suatu hal yang jarang terjadi di Indonesia. Bahkan, mahasiswa di berbagai universitas di Australia pun lazim memanggil dosen mereka dengan cara itu, misalnya saat mahasiswa menyapa dosennya, "Hi, Peter, how is it going?" Mahasiswa tak perlu membungkuk, apalagi mencium tangan profesornya, seperti yang sering terjadi di beberapa universitas di Indonesia. Begitulah ketika tempo hari saya pertama kali berjumpa dengan Chris Nash, seorang profesor Jurnalistik Universitas Monash di Kampus Caulfield, yang mengenakan anting di telinga kirinya, kami pun langsung menyapa satu sama lain dengan nama pertama.

Sebagai peminat komunikasi lintas budaya, saya lihat cara orang Australia berkomunikasi agak berbeda dengan pembicara Inggris British ataupun pembicara Inggris Amerika. Bahasa Inggris Australia jelas lebih mirip dengan bahasa Inggris British daripada dengan bahasa Inggris Amerika, karena Australia adalah negara persemakmuran Inggris (Britania Raya). Dapat dikatakan bahasa Inggris British adalah cikal bakal bahasa Inggris Australia, karena nenek moyang orang Australia berkulit putih umumnya datang dari Britania Raya. Akan tetapi, selain terdapat kata-kata khas Inggris Australia, pengucapan Inggris Australia juga lain. Mereka, terutama yang kurang terdidik, mengucapkan kata today sepeti to die, sehingga kita akan kaget jika mendengar seorang Australia berkata, "I am going to the hospital to today (yang kedengarannya to die)."

Meskipun dalam banyak segi, bahasa Inggris Australia mirip dengan Inggris British, ekspresi khas Australia juga berhamburan. Frase dan kata-kata berikut lazim terdengar: no worries (jangan khawatir), mate (teman pria); rubbish (sampah); biscuits (kue), dan chemist (apotik). Orang Australia juga gemar memendekkan kata-kata, misalnya university menjadi uni, kindergarten menjadi kindi, television menjadi teli, dan beautiful menjadi beaut. Pengumuman di tempat publik bersifat langsung dan singkat, tidak berbasa-basi atau berbunga-bunga, seperti di Inggris. Di kereta api, misalnya terdapat pernyataan, "No smoking," (Dilarang merokok) "No Litering" (Dilarang membuang sampah), dan "You must have a valid ticket to travel on this train" (Anda harus punya tiket yang berlaku untuk naik kereta ini). Bandingkan dengan pengumuman di Inggris, misalnya "We regret that in the interest of hygine dogs are not allowed on these premises" (Kami menyesal bahwa demi kesehatan, anjing tidak diizinkan di tempat ini), yang bisa dipendekkan: "Video controlled" ("Diawasi video"). Kelugasan orang Australia juga terkadang vulgar. Misalnya di Huntingdale, ada sebuah baliho besar yang bertuliskan (maaf), "Making Love? Do it longer! Call or sms ’Try’ 1800711711."

Dapat disimpulkan,orang Australia sangat lugas. Sikap ini dapat membuat orang asing, termasuk orang Amerika sekalipun, merasa diserang, misalnya dengan ucapan mereka "You don’t know what you’re talking about". Di Victoria Market di Melbourne, di sebuah kafe saya menyaksikan seorang perempuan bule yang mengembalikan roti lapis yang baru dibelinya, tampaknya karena rasanya kurang enak. Ia berteriak, "It is disgusting!". Uangnya dikembalikan oleh si bos perempuan. Suaminya yang ikut melayani pembeli berteriak, "Don’t ever come back!" Luar biasa, ini suatu kejadian yang seumur hidup saya tak pernah saya saksikan di Indonesia. Saya yang memesan fish ’n chips seharga 15 dolar Australia (sekitar Rp. 130.000,00) tak dapat membayangkan bahwa saya akan mengembalikan makanan itu karena rasanya tidak sesuai dengan selera, baik di Australia, apalagi di Indonesia. Pelajaran lain yang dapat diambil dari kejadian itu adalah betapa hak konsumen begitu besar di negeri ini. Dalam banyak kasus, konsumen boleh mengembalikan barang bukan makanan yang sudah dibeli asalkan belum dipakai.

Bagi orang berkomunikasi konteks tinggi (penuh dengan basa-basi, tak langsung, untuk menjaga harmoni) seperti orang Indonesia dan orang Jepang, orang Australia yang berbicara linier, langsung, lugas, dan faktual seperti ini bisa dianggap sebagai orang yang tidak punya perasaan. Dalam sebuah literatur dilukiskan, seorang manajer Jepang mengunjungi Australia dalam bisnis. Ia meminta seorang sejawat Australia menjelaskan suatu prosedur baru kepadanya. Orang Australia mengatakannya dengan cepat, persis, dan dari awal, bagaimana prosedur itu bekerja, menunjukkan beberapa problem yang mungkin, dan bertanya bila ia punya pertanyaan. Manajer Jepang itu merasa bahwa ia diperlakukan seperti anak kecil, dan bahwa orang Australia itu tidak punya pertimbangan atas perasaannya.

Menarik bahwa meskipun orang-orang Australia tidak banyak berbasa-basi, mulut mereka kurang terbuka saat berbicara dibandingkan dengan orang Amerika. Sebuah anekdot menyebutkan bahwa hal ini berkaitan dengan fakta bahwa beberapa abad lalu nenek moyang mereka datang ke Australia sebagai tahanan, bukan sebagai orang merdeka, sehingga mereka tidak bebas bicara dan sering menutup mulut. Cara bicara suatu bangsa atau suatu suku boleh jadi dipengaruhi faktor-faktor historis, kultural, dan geografis. Misalnya, konon orang Batak berbicara keras karena dulu nenek moyang mereka tinggal berjauhan di gunung dan lembah; orang Riau Kepulauan berbicara serupa karena suara mereka harus mengatasi suara ombak dan angin. Sementara itu, orang Padang berbicara keras karena mereka pemakan cabai. Ada pun orang Arab berbicara keras, karena lingkungan mereka yang gersang. Wallahu’alam.

Thursday, October 15, 2009

Prof Peter Waterworth di SMA Negeri 2 Kota Cilegon

(Mohon diklik dua kali untuk memperbesar tampilan di fotonya)

Wawancara Peter dengan Baraya Post

( Untuk memperbesar klik di foto 2 kali)

Sunday, October 11, 2009

Juknis Sister School: Smandak dan Apollo Bay


Pedoman Inisiatif Kerja Sama Pendidikan ( Sister School Relationships) antara SMA Negeri 2 Krakatau Steel, Cilegon,Indonesia dengan Apollo Bay College, Melbourne, Australia.

Oleh: Herli Salim
Mediator Sekolah Indonesia

Rasional
Berdasarkan pada UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa hendaknya terdapat paling tidak satu sekolah di satu daerah yang memenuhi standar internasional. Untuk memperkuat kemandirian daerah diamanatkan bahwa daerah dapat menjalin hubungan internasional (Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah). Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 30/2007 tentang standar pendidikan nasional mengarahkan sekolah menuju taraf internasional. Sementara itu BNSP ( Badan Nasional Standar Pendidikan) dibentuk untuk mendorong upaya peningkatan kualitas sekolah nasional supaya dapat setara dengan dunia internasional sehingga dapat mempertinggi kualitas lulusan. Pembentukan Provinsi Banten juga mensyaratkan pendidikan sebagai jembatan untuk menuju kesejahteraan masyarakat Banten (UU No. 23 tahun 2000). Semua perundang-undangan ini menstimulir upaya sekolah untuk sesegera mungkin mempercepat pertumbuhan kualitas pendidikan untuk memenuhi standar pendidikan baik nasional maupun internasional.


Inisiatif kerjasama sekolah dengan sekolah antara Indonesia dan Australia sangat dianjurkan sesama negara OECD dan UNICEF. Kedua organisasi dunia tersebut sangat menganjurkan adanya 'mutual benefit relationship' antara sesama negara anggota badan dunia tersebut sehingga dari interaksi itu akan tercipta networking pendidikan dan terciptanya tatanan pendidikan yang saling mengisi.

Kini telah sampai pada saat yang kondusif untuk menciptakan kerjasama pendidikan antara Indonesia dan Australia. Upaya ini mendapatkan momentumnya karena upaya yang dilakukan oleh Drs. H. Herli Salim, M.Ed., dosen Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Serang dan mahasiswa program doktor Deakin University yang sedang berada di Australia untuk kepentingan studinya. Dia bekerja sama dengan koleganya berkebangsaan Australia, yaitu Prof Dr. Peter Waterworth, konsultan akhli pendidikan, dan masyarakat pendidikan Kota dan Kabupaten Serang sudah lama mengenalnya sebagai pembicara pada beberapa seminar pendidikan.

Sementara itu, pada era pemerintahan buruh Australia, Perdana Menteri Australia-H.E. Mr. Kevin Rudd menyatakan kembali pentingnya menjalin persahabatan dengan negara tetangga serta untuk mempelajari bahasa Asia termasuk bahasa Indonesia. Sekarang ini, publik pendidikan Australia kembali bergairah untuk mempelajari bahasa Indonesia. Dari sinilah tumbuhnya minat jalinan kerjasama antar Appolo Bay College Melbourne dengan SMA Negeri 2 KS Cilegon. Kerjasama ini dapat menguntungkan kedua belah pihak: SMA Negeri 2 KS dapat menstandarkan lembaganya ke tingkat internasional dan para siswanya memilki kesempatan untuk belajar bahasa Inggris, dan para siswa Appolo Bay memperoleh mitra untuk lebih memperdalam bahasa Indonesia. Bila rintisan kerjasama pendidikan diantara kedua sekolah ini sudah mapan maka dapat ditingkatkan pada elemen kerjasama pendidikan yang lebih luas.

Mempertimbangkan hal tersebut diatas, maka sudah sampai pada saatnya terdapat suatu pedoman kerjasama pendidikan (sister school) bagi sekolah Indonesia untuk menjaga dan meningkatkan momentum kerjasama pendidikan yang telah ada. Hal ini dapat tercipta dengan cara terus-terusan memunculkan inisiatif kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas hubungan kerjsama yang menciptakan manfaat bagi kedua belah pihak.

Bentuk
Kerja sama SMA Negeri 2KS Cilegon dengan Apollo Bay College Melbourne sedang terus diupayakan dan hendaknya SMA Negeri 2 KS senantiasa terus-terusan menjaga dan menumbuhkan kesinambungan momentum ini. Kemungkinan kerjasama pendidikan akan dalam bentuk sebagai berikut:
• Siswa dengan siswa ( students exchange). Hal ini bisa dilakukan dengan cara "home stay" dan "shadowing". Siswa dari kedua negara menetap di rumah baik yg dari Smandak maupun yg dari Apollo Bay. Siswa Smandak dapat belajar bahasa Inggeris, komputer, pertukangan, dll di Apollo Bay. Siswa Apollo Bay dapat belajar kesenian lokal , bahasa Indonesia, tari tradisional di Cilegon.
• Staf dengan staf, (Staf exchange) staf Smandak mempelajari adminsitrasi pendidikan yang terdapat di Apollo Bay untuk mengoptimalkan daya dukung manajemen pembelajaran yang berbasiskan manajemen modern dan bersandar pada penggunaan teknologi informasi.
• Guru dengan guru ( teachers exchange) Hal ini bisa dilakukan pertukaran pengajar antara kedua sekolah untuk kurun waktu tertentu, bidang studi bahasa Inggeris,bahasa Indonesia, kesenian, tarian, pendidikan, dll.
• Kepala sekolah dengan kepala sekolah( principals exchange), masing-masing kepala sekolah bisa saling berkunjung dan bertukar pikiran dalam upaya mengembangkan agenda kerjasama dan mendiskusikan pengembangan manajemen pendidikan yg berbasis internet, pembuatan proyek pendidikan bersama yang didanai oleh badan dunia atau negara masing-masing.

Cara Mengerjakan
1. Smandak selalu mengupayakan terciptanya jalinan korespondensi dengan Apollo Bay. Hal ini dimulai dengan korespondensi antara kepala sekolah dengan kepala sekolah, guru dengan guru, staf dengan staf, dan siswa dengan siswa.
2. Smandak selalu berupaya untuk menciptakan kontak rutin untuk memunculkan gagasan acara bersama baik di Indonesia maupun di Australia.
3. Smandak mengusulkan pembuatan web site bersama yg diisi oleh kedua belah pihak. Untuk langkah awal setiap lembaga hendaknya mengintensifkan untuk saling berkirim email, surat via pos, untuk membicarakan segala jenis kegiatan yang mungkin dapat dikerjakan oleh kedua belah pihak.
4. Smandak dapat membuat nota kesepahaman (MOU) dengan Mac Rob. Isi MOU itu merupakan bentuk-bentuk kerjasama pendidikan diantara kedua sekolah , untuk ini perlu adaya diskusi yang serius dan intensif dari kedua belah pihak. Inilah merupakan titik awal perlu adanya kunjungan antar sekolah.
5. Smandak mengadakan kunjungan ke Apollo Bay College untuk melihat potensi Apollo Bay dan guna mematapkan kerjasama dalam bentuk yang lebih formal yakni penandatanganan MOU untuk menyelenggarakan sister school relationships.
6. Smandak hendaknya mulai merintis suatu jalinan kerjasama dengan orang tua murid untuk menitipkan para siswa Smandak di rumah – rumah orang tua siswa yang bersedia untuk dijadikan homestay. Hal ini untuk mempersiapkan, apabila siswa Apollo Bay berkunjung ke Cilegon.
7. Smandak dan Apollo Bay dapat saling membantu untuk menyediakan bahan ajar pelajaran dan hal ini merupakan bantuan hibah (gratis). Bantuan pelajaran ini dapat dalam bentuk: buku,majalah,komik, koran, novel, CD lagu/film, DVD lagu/film dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Pemanfaatan barang bekas tapi masih berkualitas akan sangat membantu terselenggaranya program ini.

Penutup
Kegiatan upaya sister school ini akan terselenggara dengan baik bilamana terdapat mediator sekolah baik di Indonesia maupun Australia. Mediator mempunyai tugas mengkomunikasikan dan selalu mengingatkan sekolah apabila sekolah menunjukan indikasi penurunan intensitas hubungan; terdapat keinginan yang kuat dari kedua belah pihak untuk selalu menjalin kerjasama pendidikan - untuk hal ini hendaknya dibentuk panitia kerja; selalu memanfaatkan momentum hubungan kondusif diantara kedua negara. (HS, 2009).

Sekilas Appolo Bay College


Apollo Bay P-12 College is a school of 250 students extending from Prep to Year 12. The College is located on the coast, 190 kilometres from Melbourne. Based at the foot of the Otways, it services the town of Apollo Bay and the surrounding rural community.

Our College currently offers courses of study which address the areas of Arts, English, Health and Physical Education, Languages other than English (LOTE), Indonesian Languages, Maths, Science, Technology and Humanities. In line with government policy, in 2007 the College implemented a new core curriculum -the Victorian Essential Learning Standards (VELS).

In 2009 the College student management structure will consist of three areas P-4, 5-9, and 10-12. Each area will be coordinated by a leading teacher. The College has Year P-2 multi age classes and Year 3-4 multi age These groupings are consistant with the stages of learning. Early Years initiatives are being implemented in P- 4 classes, Prep students undertake Perceptual Motor Program (PMP) activities. The school encourages parent participation in activities such as listening to reading, helping with process writing, typing stories and PMP. Parent helpers enhance the programs and give students more individual assistance. Cross age tutoring is used throughout the curriculum to foster a sense of responsibility between older and younger students.

Students in Years 5-6 are organised into two or three multiage classes. Years 5-6 work in a renovated Learning Centre and in 2009 all students will have access to a regional and local agreement which will provide all students in 5-6 with a Net Book computer.

A number of vertical and horizontal groupings exist for students between years 7 and 12. The aim is to socially mix students whilst providing structures that promote leadership and personal growth. More information can be found on individual team links.

Apollo Bay P-12 College offers students a high level of teacher access, especially in the senior years through smaller class sizes. The college has introduced the VCAL program in addition to the VCE in an attempt to cater for students who are aspiring to enter the work force directly after completing year 12. VET units are also offered.

A diverse range of experiences is made available to students through the camps, excursions and outdoor education programs. The college is a participant in the Advance Programme, with students in the Surf Lifesaving Cadets. Students from all levels of the school participate in excursions and field trips around the local community. The early secondary and Year 11 Melbourne trips introduce students to a large city centre.

In Years 10 and 11 students participate in a structured work experience program in Melbourne and the local area. The school utilises community agencies and local businesses for work experience placements and guest presentations.
In the past, the biannual college production has provided the opportunity for students to participate in a high standard public performance. A recent innovation has been to encourage students to be involved in a larger range of smaller drama and music performances for the school and local community.

In 2006 stage 1of our building project was completed. At a cost of 2.1 million dollars the new Art, Information Technology, Materials, Music and Science rooms provide an excellent learning environment for our students. We are still awaiting funding for stage 2 which will see the entire school rebuilt.
Students’ recreational learning is well accommodated by a recently rennovated leisure centre, swimming pool, oval and ball courts. The school oval facilitates athletics and sporting activities.

The school has a commitment to improving technology access. In 2009 students in years 5,6,7 and 10 will have access to a Net Book or Lap Top. Over the next three years we aim to equip all students from year 5 upwards with a portable computer.
Our priority has been the achievement of excellence with a focus on literacy and numeracy. This has been resourced with additional teachers in RESTART at Year 7 and Reading Recovery at Year 1.

Principal
John McConchie
Assistant Principal
Liz Hanger

Address: Pengilley Ave Apollo Bay, Victoria, 3233, Australia
T:
03 5237 6483
F:
03 5237 6065
More info: http://www.apollobay.com/communitygarden/index.htm

Wednesday, October 7, 2009

Kunjungan Prof Peter Waterworth ke Cilegon


Prof. Dr. Peter Waterworth merupakan mantan dosen Universitas Deakin, Melbourne, Australia. Sejak ia pensiun aktif memberikan kuliah paruh waktu di beberapa universitas: Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia, dan memberikan seminar di berbagai Negara Amerika dan Europa. Masyarakat pendidikan khususnya Kabupaten dan Kota Serang, serta umumnya Banten sangat akrab dengan beliau karena sering memberikan seminar, workshop, conference, supervisi tentang pembaharuan pendidikan sejak tahun 1998. Ia juga merupakan mediator kerjasama antar sekolah (sister school) untuk sekolah yang berada di Australia dengan sekolah yang berada di Indonesia.

Pada hari Rabu, 14 Oktober 2009, Ia mau ke Diknas Kota Cilegon jam 9.00 – 10.00. Mengunjungi SMA Negeri 2 KS Cilegon jam 11.00 -12.30. Maksud kedatangan beliau adalah untuk memotivasi jalinan hubungan sister school antara SMA Negeri 2 KS Cilegon dengan Appolo Bay College, Victoria. Disamping itu pula, ia berniat untuk mendiskusikan dan mengeratkan kerjasama pendidikan baik bagi SMA Negeri 2 KS Cilegon maupun bagi Appolo Bay College. Pak Peter akan menginap di Hotel Mahadria Serang dan untuk koordinasi Pak Eman Sugiman dapt berhubungan dengan Pak Ahmad Sugeng dan Pak Asep Nugraha. Terutama perwakilan SMA Negeri 2 KS hendaknya ada yang menjemput ke Hotel Mahadria Serang pada hari Rabu, 14 Oktober jam 8 pagi.

Hubungan sister school antara SMA Negeri 2 KS dengan Appolo Bay College difasilitasi juga oleh Drs. H. Herli Salim, M.Ed. Ia merupakan mediator sekolah Indonesia yang mau menjalin kerjasama pendidikan dengan sekolah Australia. Ia bertempat tinggal di Kota Melbourne, Australia, karena saat ini, Ia sedang belajar di Program Doktor Universitas Deakin, Melbourne, Australia. Ia merupakan dosen Universitas Pendidikan Indonesia, Kampus Serang, Banten. Ia aktif mendampingi Prof Dr. Peter Waterworth dalam setiap kegiatan pendidikan yang diselengarakan di Banten dan di seluruh kota Indonesia.

Kerjasama pendidikan SMA Negeri 2 KS dengan Appolo Bay College sudah terjalin dalam bentuk saling berkirim surat dan membuat web blog bersama. Blog ini diberi nama “ Apbay Karakas Friendships”. Administrator blog ini adalah Drs. Herli Salim,M.Ed. Ia sedang menunggu peran serta dari setiap sekolah untuk menyemarakan blog “Apbay Krakas Friendships”.


Kunjungan Prof Dr. Peter Waterworth sudah dikomunikasikan oleh Drs. H Herli Salim, M.Ed. kepada Bapak Drs. Eman Sugiman,MM., Kepala Sekolah SMA Negeri2 KS. Disamping itu pula pejabat Diknas Kota Cilegon, Drs Romli Roha. Keduanya sudah menjalin kontak dengan Pak Herli melalui hubungan telepon internasional langsung dari Australia ke Cilegon, Indonesia. Marilah kita gunakan kesempatan ini bagi para siswa SMA Negeri 2 KS untuk meningkatkan hubungan dengan Appolo Bay. Untuk itu, silakan siswa dan siswi SMA Negeri 2 KS menulis surat dan titipkanlah surat tersebut ke Pak Peter untuk disampaikan ke para siswa Appolo Bay. Bahkan kalau mungkin, titipkanlah hadiah/cinderamata:batas buku souvenir (yg simpel)untuk ciptakan hubungan batin dan keterkaitan persahabatan. Mari sukseskan kunjungan Prof Dr Peter Waterworth ke sekolah anda ! (HS, 2009).

Tuesday, October 6, 2009

Apollo Bay Students Initiating Link with Krakatau


Students in Apollo Bay send Pak Herli Salim letters. He is a sister school mediator and he lives in Melbourne. The letter will be brought by our another school mediator to Indonesia. His name is Peter Waterworth. He is going to Indonesia next Friday and will go to SMA Negeri 2 Krakatau Steel (Senior Academic School) in Cilegon, Banten Province. Cilegon is very closed with Jakarta which is the capital city of Indonesia. Ibu Margaret wants that Apollo Bay students will increase their motivation in learning Bahasa Indonesia through correspondence with Indonesian students. Moreover, this is also can make and build mutual cultural understanding. The administrator of the blog received the letters from:
* Danah Harbour
* Mia Mathews
* Rose
* Hannah Maxwell

They send you all SMA Negeri 2 Krakatau Steel their best regards and they hope that friendships start to establishing through blog as well as mail. Please Smandak students response the letter and give it to Pak Peter. Pak Eman Sugiman tolong dikondisikan hal ini. Bu Yuli mohon Peter difasilitasi. Bu Lia dan Pak Robert mohon kirimi saya foto dan berita tentang Smandak via email saya: herli_slm@yahoo.com. Lihat wawasan tentang sister school di link ini: www.sisterschoolsausindo.blogspot.com. Ditunggu langkah nyata selanjutnya (HS, 2009)